Sketching Nationalism in Indonesia
Between teachers and sasambo batik
Available under the Creative Commons Attribution-NonCommercial (CC BY-NC) 4.0 license.
For any use beyond this license, please contact the publisher at rights@benjamins.nl.
Published online: 29 November 2022
https://doi.org/10.54754/incontext.v2i3.30
https://doi.org/10.54754/incontext.v2i3.30
Abstract
Batik has long been well-known in Java. Its reputation increased significantly during President Susilo Bambang Yudhoyono’s (SBY) administration who declared national batik day. This encouraged provinces with no batik tradition before to create batik with its unique local identity. Th s article aims to map the roles of different agencies from educational institutions in the emergence of the local identity symbol of Nusa Tenggara Barat (NTB) province represented by Sasambo batik.
This research shows that cultural policies in Indonesia must consider locality. Local cultural expressions in Indonesia, especially in Eastern Indonesia, are often ‘forced’ to follow what is suggested and brought by actor from different traditions. The situation became more complex when the cultural expression introduced was packaged through the ideology of nationalism, Batik, which was originally part of Javanese culture, has been elevated to become a National culture. Adopting batik as part of national identity is an important cultural strategy considering that the use of batik has spread throughout Indonesia whether we like it or not. The problem is, the presence of batik technology has had an effect on local cloth craft that use a different concept from batik, such as NTB Ikat weaving.
Ikat woven craft are made through a long process and are more expensive than making batik, where the preparation and materials are easier to obtain and cheaper. In this case, the woven craft en cannot compete economically with those who make batik. Batik is faster and more can be produced. Batik was introduced systematically through the education system, while woven cloth was left as it was.
This research is part of an ethnographic research and the data were collected through observation and in-depth interviews. It was found that teachers play important roles in establishing a good reputation and even competing with the local woven cloth of NTB province. At the same time, there was a struggle over meanings between national and local batik. The ideology of nationalism used by the teachers in the end benefits not only individuals, but also groups, even government.
Abstrak
Batik telah lama dikenal oleh masyarakat Jawa. Pamornya semakin meluas ke sebagian besar wilayah Indonesia pada saat Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai presiden pada tahun 2009. SBY menetapkan Hari Batik Nasional. Hari besar itu berpengaruh pada pemunculan batik di beberapa wilayah yang bahkan belum pernah mengenal batik sebagai bagian dari identitas mereka sebelumnya. Artikel ini bertujuan untuk memetakan bagaimana peran agen yang berasal dari institusi pendidikan dalam memunculkan batik Sasambo sebagai simbol identitas provinsi Nusa Tenggara Barat. Berkaitan dengan itu, artikel ini menjelaskan polemik persaingan antarkain melalui pemetaan peran guru sebagai founding fathers yang telah memunculkan batik Sasambo serta dengan melihat penyokong yang berada di belakang mereka.
Penelitian ini menunjukan bahwa kebijakan budaya di Indonesia harus mempertimbangkan lokalitas. Ekspresi kebudayaan lokal di Indonesia, khususnya di Indonesia Timur sering ‘terpaksa’ mengikuti apa yang disarankan dan dibawa oleh tokoh-tokoh penggiat kebudayaan dari tradisi yang berbeda. Situasinya menjadi lebih kompleks ketika ekpresi kebudayaan yang diperkenalkan itu dikemas melalui ideologi nasionalisme, Batik yang semula bagian dari kebudayaan Jawa telah diangkat menjadi budaya Nasional. Mengangkat batik sebagai bagian dari identitas nasional asalah sebuah strategi kebudayaan yang penting mengingat penggunaan batik telah meluas di seluruh Indonesia suka atau tidak. Yang menjadi persoalan, kehadiran teknologi batik berpengaruh pada kerajinan kain lokal yang menggunakan konsep yang berbeda dengan batik seperti tenun ikat NTB.
Kerajinan tenun ikat dibuat melalui proses yang lama dan lebih mahal biayanya ketimbang pembuatan batik yang persiapan dan bahan-bahannya lebih mudah di dapat dan lebih murah. Dalam hal ini, para pengrajin tenun ikat tidak dapat bersaing secara ekonomis dengan mereka yang membuat batik. Batik lebih cepat dan dapat lebih banyak diproduksi. Batik diperkenalkan secara sistematis melali sistem pendidikan sementara tenun ikat dibiarkan hidup seadanya.
Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian etnografi yang dilaksanakan melalui observasi dan wawancara mendalam. Temuan yang dihasilkan pada penelitian ini memperlihatkan bahwa peran guru mengakibatkan batik Sasambo mampu berdiri sejajar atau bahkan menyaingi keberadaan kain khas NTB sebelumnya, tenun. Hal ini mengakibatkan kehadiran batik di NTB menggoyang keberadaan kain lokal. Selain itu, identitas nasional dan identitas daerah berbenturan satu sama lain. Ideologi nasionalisme yang diterapkan para guru tersebut akhirnya menguntungkan individu maupun kelompok bahkan pemerintah.
References (14)
Ahmad, Syarwan. (2014). Problematika kurikulum 2013 dan kepemimpinan instruksional kepala sekolah [Problems of the 2013 curriculum and the instructional leadership of school principals]. Jurnal Pencerahan, 8(2), 98–108.
Asikin-Garmager, Asih. (2017). Indonesian public school principals’ enactment of agency within the boundaries set by social systems [Doctoral dissertation]. The University of Iowa.
Carse, Nicola. (2015). Primary teachers as physical education curriculum change agents. European Physical Education Review, 21(3), 309–324.
Giddens, Anthony. (1984). The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration. Polity Press.
. (1979). Central Problems in Social Theory: Action, Structrure, and Contradiction in Social Analysis. University of California Press.
Indonesian Ministry of Trade. (2012). Upaya Mengkesiskan Batik di Kancah Internasional [Efforts to promote batik in the international sphere]. Retrieved November 1, 2022 from [URL]
Iskandar and Eny Kustiyah. (2016–2017). Batik sebagai identitas kultural bangsa Indonesia di era globalisasi [Batik as the cultural identity of the Indonesian nation in the era of globalization]. Gema, 30(52), 2456–2472.
Kartiwa, Suwati. (2007). Ragam Kain Tradisional Indonesia: Tenun Ikat [Indonesian traditional fabrics: Woven ikat]. Gramedia Pustaka Utama.
Kurniawan, Achmad Bagus Hendy. (2018). Implementasi kurikulum integrasi: Kurikulum Cambridge dan kurikulum 2013 Matematika kelas VIII di MTs Bilingual Muslimat NU Pucang Sidoarjo [Implementation of the integrated curriculum: The Cambridge curriculum and the 2013 mathematics curriculum for class VIII at MTs Bilingual Muslimat NU Pucang Sidoarjo] [Doctoral dissertation]. UIN Sunan Ampel Surabaya.
Ramadhan, Karta Hadimadja. (1992). Bang Ali. Demi Jakarta 1966–1977 [Bang Ali. For the sake of Jakarta 1966–1977]. Penerbit Sinar Harapan.
Shilling, Chris. (1992). Reconceptualising structure and agency in the sociology of education: Structuration theory and schooling. British Journal of Sociology of Education, 13(1), 69–87.
Temco.co. (2018). Perempuan Sasak Boleh Mneikah Setelah Bisa Menenun Kain [Sasak women may marry after being able to weave cloth]. Retrieved April 9, 2018 from [URL]
